Charles Dickens tidak sekadar menulis cerita. Dia menciptakan monster. Dan kemudian dia membuat monster itu menjadi bagus.
Ini adalah trik yang masih membuat orang tersandung hingga saat ini. Ebenezer Scrooge adalah karakter utama dalam A Christmas Carol, yang diterbitkan pada tahun 1843. Dia memulai dengan definisi murahan. Dia kedinginan. Dia jahat. Dia menghitung uangnya sementara yang lain merayakannya.
Lalu tiga hantu muncul.
Seseorang mengunjunginya dari Natal Masa Lalu. Satu lagi dari Sekarang. Yang terakhir dari Masa Depan. Ini tidaklah halus. Mereka memaksanya untuk melihat apa yang telah dia lakukan. Apa yang dia lewatkan. Menjadi apa dia.
Hasilnya adalah reset total. Di akhir buku ini, Gober tidak hanya baik. Dia murah hati. Dia memberi untuk amal. Dia membantu keluarga Cratchit. Dia menjadi “dermawan yang baik hati” bagi semua orang di sekitarnya.
Jadi mengapa kita masih menyebut seseorang “Gober” padahal dia pelit?
Dickens tidak bermaksud menjadikan nama itu sebagai penghinaan. Dia ingin alur penebusan menang. Dia ingin pembaca melihat bahwa orang bisa berubah. Tapi bahasanya berantakan. Ia tidak peduli dengan alur naratif.
Kami menyimpan labelnya karena nyaman.
“Seorang Gober” lebih cepat daripada mengatakan “orang yang menimbun kekayaan dan menghindari hubungan antarmanusia”. Ini adalah singkatan dari perilaku pelit. Itu sinonim dari perilaku kikir.
Ironinya cukup tebal untuk dipotong dengan pisau.
Kisah penebusan paling terkenal dalam sastra Inggris menimbulkan cercaan permanen.
Kita lebih mengingat titik awal daripada garis finis.
Pikirkan tentang hal ini.
Anda mendengar kata itu. Anda membayangkan pria itu. Anda melihat kerutan di dahi. Kotak uang. Kamar yang gelap dan kosong.
Anda tidak membayangkan dia membeli kalkun raksasa untuk Bob Cratchit. Anda tidak membayangkan dia menjadi ayah kedua bagi Tiny Tim.
Anda hanya melihat keserakahan.
Lucu sekali cara kerja memori.
Kami menghilangkan kerumitannya. Kami meninggalkan bagian yang buruk. Kami mengubah perjalanan manusia seutuhnya menjadi satu kata sifat.
Gober tidak hanya mengubah cara hidupnya. Dia mengubah namanya di kamus.
Itu harga yang mahal untuk sebuah akhir yang bahagia.


















