Gerutuan Pelatuk Mengungkapkan Koordinasi Tersembunyi di Balik Pematukan yang Cepat

0

Pelatuk tidak hanya memalu pohon; mereka mendengus pada setiap pukulan, seperti pemain tenis yang menghembuskan napas saat melakukan ayunan kuat. Penelitian baru yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Biology mengungkapkan bahwa dengusan ini tidak terjadi secara acak – ini adalah bagian penting dari cara burung pelatuk mencapai mematuk dengan sangat cepat dan kuat. Studi ini menyoroti biomekanik perilaku ini, melampaui penelitian sebelumnya yang hanya berfokus pada perlindungan benturan kepala.

Mekanisme Rapid Hammer

Mematuk tampak sederhana, namun merupakan prestasi kompleks yang membutuhkan gerakan otot yang tersinkronisasi. Para peneliti di Brown University menangkap delapan burung pelatuk berbulu halus dan menggunakan elektroda untuk memantau aktivitas otot sekaligus merekam video berkecepatan tinggi. Data mengungkapkan bahwa burung pelatuk mengeraskan otot lehernya sama seperti manusia saat menggunakan palu, sehingga mengurangi kehilangan energi saat benturan.

  • Otot ekor menstabilkan tubuh sebelum setiap serangan, sementara satu otot pinggul menghasilkan kekuatan.
  • Otot kepala dan leher tumpang tindih dengan kontraksi, menghaluskan gerakan maju mundur yang cepat.

Pernapasan Sinkron dengan Irama

Yang membedakan burung pelatuk adalah pola pernapasannya. Alih-alih menahan napas seperti atlet angkat besi, mereka menghembuskan napas setiap kali mematuk, meniru pemain tenis. Mereka dapat melancarkan hingga 13 pukulan per detik, hanya membutuhkan waktu 40 milidetik untuk menarik napas di antara setiap pukulan – lebih cepat daripada kedipan manusia. Pernapasan berirama ini bukan hanya terjadi secara kebetulan; itu disinkronkan dengan gerakan otot, meningkatkan koordinasi.

Melampaui Pengeboran: Komunikasi Melalui Irama?

Studi tersebut menunjukkan bahwa pernapasan yang terkoordinasi ini mungkin menunjukkan hubungan yang lebih dalam antara mematuk dan komunikasi. Burung penyanyi mengambil napas pendek sambil bernyanyi, menyiratkan bahwa permainan drum burung pelatuk bisa menjadi bentuk ekspresi non-vokal. Hal ini menantang pandangan tradisional yang menganggap mematuk hanya sebagai perilaku fungsional, sehingga membuka jalan baru untuk mempelajari komunikasi hewan.

Penemuan ini menggarisbawahi kesamaan yang mengejutkan antara biomekanik manusia dan burung, menyoroti bagaimana spesies yang tampaknya berbeda dapat mengembangkan strategi serupa untuk mengatasi tantangan fisik. Memahami mekanisme ini dapat memberikan wawasan tentang koordinasi otot, penyerapan dampak, dan evolusi komunikasi pada burung dan manusia.

попередня статтяKomet 24P/Schaumasse: Pertemuan Dekat dengan Matahari
наступна статтяTabrakan Satelit Segera Terjadi: Orbit Bumi Menghadapi Jendela Keamanan yang Menyusut dengan Cepat