Ilmuwan dan insinyur luar angkasa Maggie Aderin merefleksikan perjalanan pribadinya, dengan alasan bahwa disleksia tidak boleh dipandang sebagai suatu defisit yang harus ditangani, namun sebagai kekuatan kognitif unik yang harus dimanfaatkan.
Dari “Redup” ke Penemuan
Hampir sepanjang hidupnya, Maggie Aderin memandang disleksia yang dideritanya melalui kacamata perjuangan. Meskipun masa kanak-kanaknya ditandai dengan ketidakstabilan—harus bersekolah di 13 sekolah berbeda hanya dalam waktu 12 tahun—dia sering merasakan beban rendahnya ekspektasi dari para pendidik. Di kelas, dia adalah siswa yang tertinggal dalam tingkat membaca, sering kali diberi label “bagus tapi redup” karena kecepatan ejaan dan pemrosesannya tidak sesuai dengan standar akademik tradisional.
Namun, diagnosis formal di kemudian hari memberikan titik balik yang penting. Hal ini mengubah perspektifnya dari “penderitaan” dari suatu kondisi menjadi mengenali cara tertentu dalam memproses dunia. Kesadaran ini memungkinkannya untuk mengubah persepsi kelemahannya sebagai sifat yang mendorong karir ilmiahnya.
Kekuatan “Berpikir Disleksia”
Narasi tradisional seputar disleksia berfokus hampir secara eksklusif pada apa yang tidak bisa dilakukan seseorang: membaca dengan cepat, menulis dengan sempurna, atau memproses informasi linier dengan mudah. Meskipun tantangan-tantangan ini nyata, Aderin berpendapat bahwa tantangan-tantangan ini hanya mewakili sebagian kecil dari pengalaman penderita disleksia.
Melalui karyanya dengan organisasi Made By Dyslexia, dia telah menerapkan konsep pemikiran disleksia —seperangkat kekuatan kognitif yang meliputi:
– Berpikir Lateral: Kemampuan melihat hubungan yang mungkin terlewatkan oleh orang lain.
– Visi Gambaran Besar: Preferensi untuk memahami sistem yang kompleks secara keseluruhan daripada hanya berfokus pada detail yang terisolasi.
– Peningkatan Empati dan Bercerita: Dorongan alami untuk mengkomunikasikan ide-ide kompleks melalui narasi dan koneksi.
– Ketahanan: Ketabahan berkembang dari menavigasi dunia yang tidak dirancang untuk pikiran yang memiliki keragaman saraf.
“Dysleksia tidak menghentikan saya untuk menjadi ilmuwan. Disleksia hanya membantu membentuk saya menjadi ilmuwan seperti apa.”
Warisan Keanekaragaman Saraf
Aderin menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya diselingi oleh para pemikir penderita disleksia, namun didorong oleh mereka. Dengan melihat tokoh-tokoh seperti Isaac Newton, Albert Einstein, Leonardo da Vinci, dan Stephen Hawking, menjadi jelas bahwa keanekaragaman saraf selalu menjadi katalisator kemajuan manusia. Orang-orang ini tidak hanya “berpikir di luar kotak”; mereka mendefinisikan ulang kotak itu sepenuhnya.
Hubungan ini sangat penting karena menantang status quo pendidikan. Ketika masyarakat hanya berfokus pada ketidakmampuan seorang anak untuk lulus tes ejaan standar, maka hal ini berisiko kehilangan potensi mereka untuk memecahkan misteri ilmiah besar berikutnya.
Mengubah Narasi
Tujuannya adalah untuk beralih dari model keanekaragaman saraf yang berbasis defisit menuju model pemberdayaan. Bagi Aderin, ini berarti:
1. Meningkatkan Harapan: Memastikan anak-anak tidak merasakan “sedikit harapan yang diturunkan” dari orang dewasa.
2. Menghargai Kecerdasan yang Berbeda: Mengakui kreativitas, pemecahan masalah, dan empati sebagai bentuk sah dari kecerdasan tingkat tinggi.
3. Memanfaatkan Potensi: Melihat pemikiran penderita disleksia sebagai sumber daya global yang dapat mendorong inovasi di bidang sains, teknik, dan lainnya.
Kesimpulan
Dengan membingkai ulang disleksia sebagai aset kognitif dan bukan sebagai disabilitas, kita dapat membuka banyak sekali bakat kreatif dan analitis. Tantangan masa depan terletak pada memastikan bahwa generasi pemikir masa depan dihargai karena cara mereka memandang dunia, bukan dinilai karena perjuangan mereka menulis di dalamnya.



















